17.10.05

Berakhir Pekan dengan TD Sudjana: Cirebon Itu Benar-benar Sunda

Artikel Pikiran Rakyat édisi 4 Séptémber 2005

UNTUK memasuki kompleks Keraton Kanoman pada siang hari harus berjuang keras. Keraton yang berada di Kelurahan Lemahwungkuk, Kota Cirebon tersebut terhalang Pasar Kanoman yang semrawut. Satu-satunya jalan menuju keraton juga dipenuhi pedagang kaki lima dan tukang becak.

Teman saya wartawan Mitra Dialog, Undang Sunaryo, turun dari mobil untuk memandu dan "membersihkan" PKL serta tukang becak dari jalan tersebut. Beberapa pedagang ngedumel. Setelah melewati jalan padat sepanjang 100 meter, akhirnya kompleks keraton yang didominasi warna merah bata itu pun terlihat. Ya, Keraton Kanoman, yang seolah tenggelam oleh kekumuhan pasar.

"Oh, ini rupanya keraton yang tempo hari singgasananya jadi rebutan itu. Apa sih yang diperebutkan?" tanya saya ketika bertemu dengan TD Sudjana pekan lalu, di rumahnya yang sederhana di kompleks kerabat keraton. Lelaki tua berusia hampir 70 tahun itu tersenyum. "Sejarah kerajaan memang dipenuhi intrik, berebut pengaruh, berebut kekuasaan. Selalu saja begitu," tuturnya enteng.

Ketika gonjang-ganjing di Keraton Kanoman berlangsung, Sudjana cuma mengelus dada. Sebagai orang yang bergelut dengan naskah-naskah sejarah Kacirebonan, dia tahu persis bagaimana sebetulnya konflik serupa itu muncul dalam sejarah Kanoman, atau Kasepuhan dan Kacirebonan. Dia tahu baik buruknya orang-orang keraton.

"Ketika ada orang keraton yang merasa paling benar atau merasa paling sah disebut bangsawan, bersikap sombong, sebenarnya saya bisa saja ngajak ngobrol. Saya bisa katakan padanya, dulu kakek kamu itu perilakunya begini. Atau orang yang kamu banggakan itu sebenarnya begini. Nenek moyangmu tingkah lakunya gini. Tapi kalau saya blak-blakan, mereka pasti tersinggung," tuturnya.

Tapi separah apa pun persoalan di lingkungan keraton, tidak tercatat dipicu oleh kasus korupsi dan sejenisnya. Lebih sering disebabkan penyimpangan dalam kebijakan pemerintahan. Menurut naskah yang ada di Belanda, Keraton Kanoman pada zaman kolonial mendapat bantuan sebesar 6.000 gulden. Sebagai perbandingan, pejabat setingkat wedana saja hanya diberi 10 gulden.

Besarnya bantuan tersebut diberikan karena pemerintah kolonial ketika itu sangat memaklumi kebutuhan keraton, antara lain untuk memelihara berbagai situs. Ironisnya, pada zaman republik bantuan untuk keraton di Cirebon sangat kecil. Untuk membayar rekening listrik saja sungguh sulit.

Diakuinya, keraton-keraton di Cirebon sebenarnya masih punya wibawa di tengah masyarakat, namun tidak lagi menjadi pusat semangat dinamika warganya. Pesonanya terus berkurang dan orang seperti tidak lagi bangga menjadi warga keraton.

Meski begitu, magersari (abdi dalem keraton) hingga saat ini masih saja ada dan bersedia bekerja tanpa dibayar. Begitu pula dengan lurah keraton, setiap hari bekerja tanpa kenal lelah meskipun tidak digaji. Mereka adalah para pengabdi sejati.

Tidak salah memang menemui Sudjana, jika ingin mengetahui seluk beluk sejarah Cirebon. Lelaki ini tidak ubahnya seperti kamus berjalan bagi mereka yang ingin mencari tahu lebih jauh tentang kota tersebut. Dia fasih betul menyebut naskah-naskah yang bercerita soal Cirebon, sekaligus menyebut secara detail tokoh-tokoh di dalamnya dan rentang masa yang dilaluinya.

Sudjana adalah salah satu dari sedikit orang Cirebon yang peduli dan memahami sejarah kotanya. Tidak heran jika para mahasiswa, peneliti, atau pejabat pemda, berdatangan ke rumahnya untuk keperluan yang berkaitan dengan sejarah Cirebon. Orang-orang menyebutnya sejarawan, budayawan, atau seniman. Padahal dia sangat risi dengan panggilan-panggilan tersebut. "Saya ini hanya pensiunan kepala seksi kebudayaan Dikbud Kota Cirebon. Pengetahuan soal sejarah diperoleh secara autodidak," ujarnya merendah.

Dalam usia setua itu, yang separuh hidupnya digunakan untuk memburu naskah-naskah kuno, Sudjana kini merasa plong. Dia bisa bernapas lega karena "tidak ada keraguan lagi" soal sejarah Cirebon dalam konteks Jawa Barat. "Pak Djana, urang mah ayeuna geus plong yeuh. Teu ragu-ragu deui," ujar Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, sejarawan dari Unpad, suatu ketika, kepada Sudjana.

Dulu, kata Sudjana, seperti ada garis pemisah antara orang Sunda dan orang Cirebon. Ada ganjalan psikologis, sehingga orang Sunda seperti mungkuran (membelakangi -red) orang Cirebon karena dianggap sebagai orang Jawa. Seperti ada rantai yang terputus.

"Lewat naskah-naskah kuno itu, kita mendapat penjelasan soal silsilah, ketokohan para pendahulu kita, hubungan darah dan sebagainya. Ya semuanya tuntas. Tidak diragukan lagi. Cirebon itu Sunda juga, ya Galuh juga. Bukan orang lain, hanya bahasanya yang beda," paparnya.

Dalam berbagai tulisan yang mengungkap naskah-naskah kuno berkaitan dengan Cirebon atau Sunda, barangkali tidak akan ditemukan nama Sudjana. Padahal lewat tangannyalah banyak dokumen berharga tersebut dihimpun, dibaca, dan sampai ke tangan para ahli.

Beberapa naskah penting dan menjadi acuan bagi penulisan sejarah Sunda, ditemukan di wilayah Cirebon. Sudjana terlibat dalam perburuan dokumen-dokumen tersebut. Misalnya naskah Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon yang ditemukan pada tahun 1972. Kemudian berbagai naskah dari abad ke-17 karya Pangeran Wangsakerta dari Cirebon. Lalu naskah Siksa Kandang Karesian, Sundayana, atau naskah-naskah Koropak Galunggung.

Pada tahun 1970-an hingga 1980-an memang pencarian naskah giat dilakukan. Pada rentang waktu itu, Atja yang menjabat Kepala Kabid Permuseuman dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Jabar serta Kepala Museum Negeri Jabar (kini Museum Sri Baduga), memang sangat gandrung pada aktivitas tersebut. Naskah-naskah tersebut kini banyak disimpan di museum itu.

"Djan, urang nyukcruk yu neangan naskah. Kamana we lah," begitu ajakan Atja kepada Sudjana. Atja pula yang sering mendorongnya untuk terlibat lebih jauh dalam perburuan naskah dan sejarah Cirebon. Naskah Purwaka Caruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon atau naskah-naska karya Pangeran Wangsakerta seperti Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara, Pustaka Pararatwan, atau Pustaka Nagarakretabhumi. Naskah-naskah yang disusun Pangeran Wangsakerta menjadi salah satu naskah yang terkenal.

Ketika naskah ini dipublikasikan, serta-merta memancing sikap pro dan kontra. Terjadi polemik berkepanjangan di media massa, antara Atja dan kawan-kawan yang membela naskah tersebut, dengan Boechari dkk. yang meragukannya. Para ahli yang pro menganggap naskah tersebut sebagai salah satu dokumen penting bagi penulisan sejarah Sunda. Sedangkan yang kontra meragukan naskah itu ditulis pada abad ke-17 karena itu dianggap palsu. Bahkan disebut-sebut sebagai "skandal ilmiah".

Sudjana dan Salana, dianggap menjadi "tersangka" dalam kasus tersebut. "Nah itulah kita, selalu silau dengan kehebatan Barat. Kita ini suka ngece, suka menghina diri kita sendiri, 'masak kita lebih pintar dari Barat?' Pangeran Wangsakerta diragukan karena dia lebih pintar dari orang Barat. Menurut saya naskah itu asli. Saya kira dia jenius di bidangnya. Dia sudah mampu memetakan pembagian zaman dengan istilah-istilah yang dibuatnya sendiri," kata Sudjana.

Melalui tulisannya, Wangsakerta secara rasional mengupas Raja Pajajaran terkenal yang bernama Prabu Siliwangi. Pangeran Wangsakerta tidak melakukan pendekatan-pendekatan yang muskil tentang tokoh besar dalam sejarah Sunda itu. Tidak kental bau mistik. Sebagaimana halnya sejarah modern, Wangsakerta menjelaskan secara rinci dan masuk akal.

Begitu juga saat menerangkan sosok Nyi Roro Kidul, tokoh misterius yang sering disebut-sebut sebagai penguasa Laut Kidul. Menurutnya, Roro Kidul adalah manusia biasa. Bukan dari golongan jin atau makhluk halus. Roro Kidul adalah sebutan bagi perempuan penguasa kerajaan yang terletak di selatan Keraton Jawa. Jadi bukan nama yang melekat pada seseorang saja. Tapi nama gelar seperti juga nama Hamengkubuwono.

Para perempuan penguasa ini, menganut Budha Kalachaka. Mereka menyembah 13 dewa. Wajah Roro Kidul terkenal rupawan. Menurut Wangsakerta, Sunan Kalijaga menikahi Roro Kidul ke-17 yang masuk Islam. Dari perkawinan ini lahir tiga putri, yang kemudian dinikahi tiga orang wali dari jajaran walisongo. Naskah Wangsakerta tentang Roro Kidul belum dipublikasikan secara luas. "Kalau sekarang, Roro Kidul kan dianggap penguasa dunia gaib di laut selatan. Banyak praktik klenik yang berkaitan dengan tokoh ini," katanya.

**

TIDAK usah bertanya kepanjangan TD di depan nama Sudjana. Karena memang tidak ada artinya. "TD ya TD saja. Tidak ada artinya, bukan singkatan, tidak ada kepanjangannya," katanya. Dia berkisah, di Cirebon begitu banyak orang terkenal bernama Sudjana. Ada Sujana seniman topeng, Sujana seniman lukis, Sujana seniman ukir, dan banyak Sujana lainnya. Untuk membedakannya dari yang lain, dia menambahkan TD di depan namanya. Meski tidak ada makna apa-apa.

Sudjana lahir dari kalangan biasa. Ayahnya seorang guru mengaji merangkap kuncen Palangon, yakni tempat suaka kera di Sumber Cirebon. Dari pernikahannya dengan Ulfiah, yang meninggal pada tahun 1982, Sudjana memperoleh empat anak.

"Setelah itu saya teh meunang parawan deui. Menikah dengan Ratu Purwanti yang masih kerabat keraton. Dari perkawinan ini mendapat enam anak," tuturnya. Lewat perkawinan kedua itulah Sudjana menjadi penghuni rumah tersebut. Dulu rumah itu didiami Ratu Raja Bunga, kakek Emiruddin, Sultan Kanoman saat ini. Dia pindah dari rumah lamanya di Jln. Pekawatan.

Lelaki kelahiran Cirebon 14 Agustus 1937 ini sempat kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sejak tahun 1959, dengan meraih gelar sarjana muda. Adalah dosennya bernama Notojayadiningrat yang pertama kali membawanya masuk ke dalam dunia sastra, bahasa, dan sejarah. Noto hidup sendirian dan meminta Sujana diam di rumahnya.

Di tempat kerja gurunya itulah, Sudjana melihat begitu banyak buku dalam berbagai bahasa. Notojayadiningrat juga yang memperkenalkannya pada bahasa Sansekerta dan Kawi. Setelah menyelesailkan studinya, Sudjana mencari peruntungan di Jakarta sebagai guru seni rupa hingga menjelang meletusnya G 30 S PKI.

Begitu kembali ke Cirebon, Sudjana banyak menemukan naskah kuno, dan langsung jatuh cinta. Dasar-dasar bahasa Sansekerta dan Kawi pun diasahnya lagi secara autodidak. Kegemaran barunya itu lebih intensif dilakukan ketika dia menjabat sebagai kasi kebudayaan di Dikbud Kota Cirebon. Bersama Atja, Sudjana malang melintang memburu naskah ke berbagai tempat.

"Ternyata begitu banyak naskah yang berkaitan dengan Cirebon atau Sunda. Dokumen-dokumen itu ditemukan di berbagai tempat seperti Surabaya, Palembang, bahkan ada yang ditemukan di Kuala Lumpur dan Johor Malaysia," ujarnya.

Cara sampainya dokumen itu ke tangan Sudjana pun memiliki keunikan sendiri. Misalnya, tiba-tiba saja seseorang menelefon dan memberi tahu adanya naskah kuno. Komunikasi seperti itu berulang kali dilakukan, karena ujung-ujungnya menyangkut transaksi. Dia tidak memiliki dana yang diminta penelefon. Biasanya Sudjana menghubungi Atja untuk membicarakannya.

Lama-kelamaan, bisnis naskah kuno ini tercium juga oleh calo. Banyak orang yang datang ke rumahnya menjadi perantara jual beli dokumen tersebut. Harga naskah pun menjadi lebih mahal lagi. Para calo menawarkan angka Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta untuk satu naskah. Banyak di antara calo yang langsung datang kepada Atja di Bandung.

Kadang-kadang jika ada kekhawatiran naskah itu akan segera lari jika tidak dibeli, Sudjana tidak jarang menjual barang-barangnya untuk menalangi dulu pembayaran. Setelah itu baru meminta ganti kepada Atja.

Dalam kurun waktu 5-6 tahun dia benar-benar disibukkan dalam dunia naskah kuno. Jika mendapatkan "barang baru", Sudjana mengaku seperti orang gila. "Ya, jiga kasetanan. Naskah itu langsung dibaca, diterjemahkan, tanpa ingat waktu. Kalau belum selesai, saya benar-benar gelisah. Di kantor baca naskah, di rumah juga begitu," tuturnya.

Dari catatan, diperkirakan tidak kurang dari 2.800 judul naskah yang menyangkut Cirebon. Dari jumlah tersebut, baru terkumpul sekira 600 judul naskah mengenai sejarah. Angka itu diketahui dari katalog yang ditulis sejumlah pengarang dalam buku-buku mereka.

**

KINI Sudjana tidak muda lagi. Namun di balik usia yang menua dan tubuh kurus legamnya, masih tersimpan semangat besar untuk tetap mengabdikan hidupnya bagi kekayaan budaya Cirebon. Dia masih menekuni berbagai hal berkaitan dengan sejarah kotanya. Sudjana sadar benar, hanya sedikit orang yang memiliki perhatian pada bidang ini. Barangkali tidak lebih dari lima atau enam orang di Cirebon yang punya dedikasi seperti dirinya.

Dengan terus terang Sudjana mengaku grogi dengan berbagai isu yang menyebutkan pelajaran sejarah akan dihapuskan dari bangku sekolah. "Wah gawat. Saya sudah kayak gini, kok malah pelajaran sejarah mau dihilangkan," ujarnya.

Sedikitnya sudah 15 buku yang ditulis Sudjana tentang berbagai hal mengenai Cirebon. Selain itu ratusan tulisan tersebar di bebagai media massa cetak. Namun dia menyesal, tidak rajin mengumpulkan tulisan-tulisan tersebut, padahal akan sangat bermanfaat jika dijadikan buku.

Ketika ditemui di rumahnya, Sudjana tengah mempersiapkan skenario untuk pementasan tahunan sendratari di Gua Sunyaragi. Skenario berjudul, "Palagan Puteri Selapandan" itu digelar pada 27 Agustus malam, dan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebenarnya skenario ini sudah dipentaskan pada tahun 1988, tapi pihak Yayasan Sunyaragi memintanya kembali. Sebab materinya sangat relevan dengan peranan kaum perempuan dalam masyarakat. Sudah 13 skenario dia kerjakan untuk pementasan rutin tersebut.

Kemampuan lain yang dimiliki Sudjana adalah membuat lukisan kaca dan dekoratif. Hingga kini masih ada orang yang memesan lukisannya, juga desain untuk bangunan rumah. Dalam sebulan ada dua atau tiga order yang dikerjakannya.

"Tapi, sekarang terasa perubahan pada kemampuan saya. Kalau menarik garis lurus di atas kertas, tangan saya bergetar. Dulu hanya dalam sehari pesanan gambar rumah bisa selesai. Namun, untuk saat ini butuh beberapa minggu baru bisa rampung," keluhnya.

Matahari amat terik siang itu, ketika Sudjana mengantar kami ke luar halaman rumahnya. Alun-alun Kanoman penuh sampah. Tapi, banyak juga orang yang terlelap di bawah keteduhan pohon tua di sekitar keraton. (Enton Supriyatna Sind)***

15.10.05

Budaya Sunda, Antara Mitos dan Realitas

Artikel Pikiran Rakyat édisi 6 Méi 2005

Oleh Drs. REIZA D. DIENAPUTRA, M.Hum.

W.S. Rendra dalam Kongres Kebudayaan IV di Jakarta, 29 Oktober - 3 November 1991, mengemukakan bahwa setidaknya ada tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan. Pertama, kemampuan bernapas. Kedua, kemampuan mencerna. Ketiga, kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi. Keempat, kemampuan beradaptasi. Kelima, kemampuan mobilitas. Keenam, kemampuan tumbuh dan berkembang. Ketujuh, kemampuan regenerasi.

Kemampuan bernapas dalam kebudayaan dimaknai sebagai kemampuan untuk mengolah hawa menjadi prana, menjaga kebersihan udara, mengharmonikan kegiatan kehidupan dengan irama nafas, serta menghilangkan hal-hal yang menimbulkan ketegangan pada pikiran yang berarti menimbulkan kesesakan pada nafas kehidupan. Kemampuan mencerna dimaknai sebagai kemampuan untuk mencernakan berbagai pengalaman dalam kehidupan. Kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi dimaknai sebagai kemampuan berinteraksi secara sosial.

Kemampuan beradaptasi dimaknai sebagai kemampuan kesadaran untuk secara kreatif mengatasi tantangan keadaan, tantangan zaman, dan tantangan berbagai ragam pergaulan. Kemampuan mobilitas dimaknai sebagai kemampuan untuk dengan kreatif menciptakan mobilitas sosial, politik, dan ekonomi, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.

Kemampuan tumbuh dan berkembang diartikan sebagai kemampuan kesadaran untuk selalu maju, selalu bertambah luas, dan dalam wawasannya selalu menawarkan paradigma-paradigma yang segar dan baru. Kemampuan regenerasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mendorong munculnya generasi baru yang kreatif dan produktif.

Di samping daya hidup, unsur lain lagi yang juga penting dalam suatu kebudayaan adalah mutu hidup. Mutu hidup bukanlah merupakan kesempurnaan tetapi lebih dimaknai sebagai kewajaran. Adapun kewajaran dalam hidup manusia merupakan harmoni tiga mustika, yakni, tanggung jawab kepada kewajiban, idealisme, dan spontanitas. Tanggung jawab kepada kewajiban dimaknai sebagai sebuah kesadaran untuk selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban secara penuh sesuai dengan tanggung jawab sosialnya.

Idealisme dimaknai sebagai rumusan sikap hidup seseorang di dalam menempuh padang dan hutan belantara kehidupan. Idealisme sekaligus merupakan sumber kepuasan batin seseorang. Spontanitas dimaknai sebagai ungkapan naluri dan intuisi manusia. Tanpa spontanitas akan menyebabkan hidup menjadi kering dan hambar.

Daya hidup

Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.

Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?

Kalaulah kemudian tujuh daya hidup kreasi Rendra digunakan untuk mengelaborasi kebudayaan Sunda kontemporer, setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.

Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.

Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.

Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.

Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.

Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.

Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.

Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.

Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.

Daya mati

Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.

Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?

Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh urang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah.

Menurut A. Chaedar Alwasilah (2003), setidaknya ada sebelas ayat sesat yang telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Pertama, anggapan bahwa literasi adalah kemampuan membaca. Kedua, anggapan bahwa mahasiswa tidak perlu diajari cara menulis. Ketiga, anggapan bahwa penguasaan teori menulis akan membuat siswa mampu menulis. Keempat, anggapan bahwa tidak mungkin mengajarkan menulis pada kelas-kelas besar. Kelima, anggapan bahwa menulis dapat diajarkan manakala siswa telah menguasai tata bahasa. Keenam, anggapan bahwa karangan yang sulit dipahami memperlihatkan kehebatan penulisnya. Ketujuh, anggapan bahwa menulis hanya dapat diajarkan manakala siswa sudah dewasa. Kedelapan, anggapan bahwa menulis karangan naratif dan ekspositoris harus lebih dahulu diajarkan daripada genre-genre lainnya. Kesembilan, anggapan bahwa pengajaran bahasa adalah tanggung jawab guru bahasa. Kesepuluh, anggapan bahwa menulis mesti diajarkan lewat perkuliahan bahasa. Kesebelas, anggapan bahwa bacaan atau pengajaran sastra hanya relevan bagi (maha) siswa fakultas sastra.

Budaya lisan dalam kebudayaan Sunda sebenarnya merupakan budaya yang telah lama akrab dengan komunitas Sunda, bahkan usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan budaya baca dan tulisan. Namun, budaya lisan dalam pengertian kapasitas untuk mengemukakan pendapat serta berjiwa besar dalam menghadapi pendapat yang berbeda masih merupakan barang yang masih amat sangat langka dalam Kebudayaan Sunda. Tradisi lisan Sunda tampaknya baru mampu menghargai komunikasi model monolog dan bukannya dialog. Akibatnya, kemampuan untuk menyampaikan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda dalam Kebudayaan Sunda merupakan barang yang teramat mewah. Padahal, kapasitas untuk mengemukakan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda ini menjadi salah satu dasar bagi munculnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan yang berkualitas. Kapasitas mengemukakan pendapat pada dasarnya merupakan representasi dari kemampuan bernafas dan mencerna, sementara kapasitas menerima dengan jiwa besar pendapat yang berbeda lebih merupakan representasi dari kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi.***

Penulis Lektor Kepala pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran serta Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Lintas Budaya Bandung.

"Babad Sancang", Kenang Jejak Siliwangi

Serat salira wengi tadi tos katampi
kantenan jungjunan, kantenan mungguh ewuhna
disangki serat katresna sabudeureun cinta urang
geuningan lepat dugaan mundut mundur pipisahan

Serat salira dina jajaran kalimat
mungkana dewasa mun kedah midua ati
teu sapuk sareng aturan sok sieun teu kabadanan
cangcaya moal laksana
mendak bagja sasarengan


KEDUA kelopak matanya sesekali terkatup. Tubuhnya yang sudah agak bungkuk semakin merunduk, bahkan nyaris mengenai tumit kakinya yang dilipat saat menjangkau nada tinggi.

Suaranya semakin parau serta gemetar manakala nada tinggi dijangkau. Namun sangat berbeda manakala suara lembut keluar dari celah bibir yang sudah berkeriput.

Alunan suara Ema Dedeh--yang lebih senang disapa Ema Edeh yang kini usianya sudah menginjak 54 tahun--seakan tidak ingin kalah dengan suara debur ombak pantai selatan yang bersahut-sahutan manakala malam semakin merayap ke pengujung hari. Pun demikian dengan suara binatang malam penghuni Hutan Sancang yang semakin malam semakin meramaikan suasana.

Ditingkahi permainan kacapi indung Eben Sarbeni (74) dan juru biola Aki Idji (76), semakin menghadirkan suasana magis "Upacara Ritual Budaya Babad Sancang". Acara yang digelar dengan mengambil lokasi di Nusa (pulau kecil) Cijeruk Indah, Rabu (4/5) hingga Kamis (5/5) dini hari diprakarsai warga nelayan Kampung Yayasan, Desa Sagara, Kec. Cibalong, Kab. Garut, dengan didukung Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat.

Kawih di atas bertajuk "Serat Salira" dilantunkan Ema Edeh berulang-ulang mengikuti permainan kecapi dan gesekan biola. Tembang yang pernah dilantunkan juru kawih terkenal Idjah Hadidjah itu seakan menjadi puncak dan menutup semua rangkaian acara yang hanya berlangsung sekira lima jam, mulai pukul 21.00 WIB dan baru berakhir menjelang pukul 2.00 WIB dini hari.

Dibuka dengan larik pantun oleh Ki Eben Sarbeni, juru pantun sekaligus pemain kecapi. Ungkapan-ungkapan siloka Sunda karuhun mengingatkan manusia akan kebesaran Allah yang telah menciptakan bumi beserta isinya. Semua kenikmatan yang harus ditafakuri dan disyukuri.

Tanpa dipenggal jeda, Ema Edeh sebagai juru kawih menyambungnya dengan "Kidung Pambuka" diteruskan "Kidung Siliwangi". Kidung yang berisikan untaian kata-kata dalam bahasa Sunda, mengingatkan kebesaran jasa-jasa para leluhur Sancang.

Lepas dari dua kidung yang disuarakan juru kawih Ema Edeh, Ki Eben Sarbeni meneruskannya dengan rajah "Babad Sancang". Inilah inti dari "Upacara Ritual Budaya Babad Sancang", yang menceritakan asal muasal Nagari Sancang sebagai tempat pelarian untuk mencari ketenangan dan ketentraman jiwa seseorang yang tengah dilanda permasalahan.

Pada awalnya, Upacara Ritual Budaya Babad Sancang, hanya diikuti tidak lebih dari 30 orang. Denting kecapi yang semakin meninggi dan penuh variasi seakan mengundang warga untuk berdatangan dari pelosok. Malam semakin larut dan angin laut selatan semakin kencang berembus menyingkirkan awan yang menutupi bulan pada malam itu hanya membentuk sabit. (Retno HY/ "PR")***

(Artikel Pikiran Rakyat édisi 6 Méi 2005)