4.8.06

Kapamingpinan Sunda

Oleh EDDY D. ISKANDAR

"SELAMA ini kalau kita berbicara tentang kasundaan, hanya terbatas pada seni budaya. Sering kali hanya itu. Padahal kalau kita berbicara tentang Sunda, paling tidak ada aspek sarakan, dan aspek lingkungan. Jadi kalau ada pertanyaan; pemimpin Sunda masa depan yang diharapkan itu seperti apa, yaitu pemimpin Sunda yang didalam membuat kebijakan-kebijakannya tidak merusak sarakan, atau tidak merusak lingkungan, dan kebijakan-kebijakannya pro rakyat. Kalau sekarang ada pemimpin Sunda yang nyaah kepada kesenian tapi banyak kebijakan-kebijakan yang dia lakukan tidak menunjukkan rasa cinta terhadap sarakan, dan tidak pro urang Sunda - bahkan menyengsarakan, maka kasundaannya belumlah komplet"

Pendapat tersebut diungkapkan oleh Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Ir., DEA, 18 April lalu, sebagai pembicara dalam acara "Dialog Kompetensi Kepemimpinan Sunda" di aula Pikiran Rakyat.

Belakangan ini, seakan ada "kerinduan" munculnya pemimpin Sunda yang benar-benar aspiratif, yang mampu mencerminkan seperti apa yang digambarkan oleh Ganjar. Sekian banyak diskusi, seminar, atau tulisan apapun tentang kepemimpinan Sunda, cenderung hanya sebatas wacana, bahkan tak jarang memunculkan amarah dan keluh kesah.

Melihat kenyataan jumlah orang Sunda yang ada di DPRD Provinsi Jabar sekarang ini minoritas, maka reaksi yang diungkapkan dalam beragam tulisan adalah kekecewaan atau "saling menyalahkan", tanpa membuat solusi yang berorientasi ke depan, bagaimana mengatasi kenyataan seperti itu. Ada kalanya, malah terjebak ke dalam kebanggaan masa silam, menyebut sosok satu atau dua pemimpin Sunda yang berhasil, lalu mengungkapkan serentetan kelemahan pemimpin Sunda sekarang. Hanya sebatas itu.

Dalam banyak tulisan atau kegiatan diskusi, masalah kepemimpinan Sunda sering kali terlontar dari orang yang "belum pernah jadi pemimpin", sehingga apa yang diungkapkan hanyalah sebatas wacana. Kita tidak pernah mendengar pengalaman atau pendapat dan sikap mereka yang pernah jadi pemimpin atau yang masih memimpin. Bahkan sudut pandang kepemimpinan Sunda hanya dilihat dari ruang lingkup yang lebih sempit dengan mengungkapkan contoh-contoh yang ideal menurut gambaran yang mengawang.

Padahal, realitasnya masih ada pemimpin Sunda yang memiliki kemungkinan menjadi pemimpin masa depan. Kita malah mengabaikan seorang Marty Natalegawa, yang dalam usia yang masih muda sudah menjadi Duta Besar RI di Inggris. Atau malah sampai sekarang tidak pernah ada konsep, bagaimana caranya memunculkan pemimpin Sunda yang berkualitas.

Apa yang kemudian dilakukan oleh Panitia Tetap "Dialog Kompetensi Kepemimpinan Sunda untuk Menjawab Tantangan Masa Depan", diharapkan mampu membuat solusi untuk melahirkan pemimpin Sunda dengan konsep yang terstruktur - sehingga menjadi kebijakan pemerintah daerah, bukan lagi sekadar wacana.

"Penyelenggaraan serial Dialog Kompetensi Kepemimpinan Sunda ini kami gagas dalam upaya turut menyusun rancangan bahan resolusi kebijakan keur ngawangun kareueus jeung kanyaah ka sarakan urang, dalam menghadapai tantangan masa depan bangsa.

Tujuan dan sasaran yang dicapi melalui forum dialog ini adalah membangun kesadaran rasa kasundaan sebagai nilai potensial yang fokus kajiannya diarahkan pada usaha penggalian dan perumusan standar kompetensi kepemimpinan Sunda melalui bahasan dialog, antara lain; Sejauh mana dinamika demokrasi yang otonom telah menerpa nilai-nilai kehidupan dan bagaimana merancang serta mengelola berbagai perubahan nilai secara proporsional dan tepat sasaran?" ujar penggagas dialog, Drs. Ubun R. Sah.

Sedangkan Drs. Uu Rukmana, sebagai pengarah, mengharapkan agar Dialog Kompetensi Kepemimpinan ini jangan hanya dijadikan sebatas wacana, melainkan harus diikuti dengan kerja dan langkah-langkah nyata yang konsepsional, terarah, komprehensif, dan terukur, yang akhirnya akan bermuara pada pencapaian masyarakat adil makmur, sesuai dengan cita-cita proklamasi. Urang Sunda harus berperan di tingkat nasional, jangan hanya berperan di lembur sorangan, atau dianggap jago kandang. Urang Sunda juga harus mampu menghapus anggapan jelek; ku naon urang Sunda kalau sudah jadi pingpinan nasional sok poho ka lembur?

Tentu banyak hal menarik, ketika pemimpin Sunda menyampaikan "pengalamannya dalam memimpin", bahkan dengan bicara tanpa teks, diluar dugaan mampu mengungkapkan hal-hal yang tak terduga, seperti apa yang dikemukakan oleh pembicara lainnya dalam "Dialog Kompetensi Kepemimpinan Sunda" seri pertama, yaitu mantan Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. H. Edi Darnadi, yang sudah 32 tahun bertugas di berbagai provinsi di Indonesia.

"Betapa gigihnya para sesepuh Sunda zaman dahulu menggali apa yang terjadi dalam perjalanan panjang sejarah bangsa kita. Dan itu terungkap melalui pemahaman-pemahaman dalam pedoman hidup, sebuah warisan berharga sebagai pegangan dari pemimpin terendah hingga pemimpin tertinggi. Kita mulai dari pemimpin keluarga. Ada peribahasa gagade bari nyarande. Setiap orangtua, pasti senantiasa mendambakan anaknya maju, jauh melebihi kemajuan yang dicapai oleh orangtuanya.

Kata ayahnya -”Kilangbara atuh, bapa jadi patani, maneh mah kudu jadi pamingpin-”. Jawab anaknya,"Atuh, Pa. Piraku bapa ngongkosan abdi, ngaluarkeun ongkos langkung tina kabutuhan bapa. Kata ayahnya, Keun bae bapa mah gagade bari nyarande ge, asal hidep bisa leuwih ti bapa". Itu adalah contoh kepemimpinan yang diperlihatkan oleh seorang ayah. pemimpin yang berani berkorban untuk kemajuan anaknya. pemimpin harus seperti itu, ia harus lebih mementingkan kesejahteraan dan kemajuan anak buahnya.

Jangan jadi pemimpin yang nyalindung ka gelung. Tergantung pada orang lain, tidak punya sikap. Coba kita guar istilah haripeut ku teuteureuyeun. Itu kan gambaran keserakahan. Kalau jadi pemimpin jangan haripeut ku teuteureuyeun. Artinya, jangan serakah, jangan korupsi atau kolusi. Begitu kira-kira. Kemudian istilah kejot borosot. Anak-anak sekarang mungkin tidak mengenal ungkapan itu. Maksudnya; seorang pemimpin janganlah mengambil keputusan cepat atau tergesa-gesa.

Begitu banyak ungkapan-ungkapan yang sesungguhnya bukan sekadar ungkapan, istilah, atau peribahasa, sebab kalau dihayati ternyata memiliki makna yang dalam sebagai pedoman hidup. Dan kalau petuah para sesepuh itu dijalankan, dilaksanakan, akan terasa manfaat dan dampaknya, baik bagi pemimpin keluarga atau pemimpin yang lebih tinggi lagi. Saya kira sangat banyak ungkapan-ungkapan Sunda yang bisa dijadikan pedoman untuk dikonsepkan, sehingga Kepemimpinan Sunda tetap berpijak pada filsafat kasundaan".

Meskipun ada yang beranggapan, bahwa diskusi atau wangkongan tentang kepemimpinan Sunda hanya sebatas wacana, tak ada kemajuan, tidak ada lajuning lakuna, kitu keneh-kitu keneh wae, bagi Edi Darnadi kemajuan itu sudah ada, walaupun tidak sebesar yang diharapkan. Kemajuan yang ia maksudkan adalah kemajuan perorangan. Ia sendiri merasakan bisa melaju sebagai "pemimpin", karena konsisten menjalankan pedoman warisan para sesepuh Sunda. Yang diperlukan saat ini, menurut Edi rasa kebersamaan, menyamakan persepsi, menyatukan konsep, sehingga kriteria pemimpin Sunda seperti apa yang dikemukakan Ganjar Kurnia, ke depan bisa terealisasi.

Menurut anggota Pantap "Dialog Kompetensi Kepemimpinan Sunda", R.H. Maman H. Wangsaatmaja, dialog tersebut akan dirancang sepuluh seri dengan menampilkan dua pembicara tiap serinya. Tidak ada debat pendapat atau saling menyalahkan, sebab yang diutamakan adalah "curah pendapat" atau masukan yang nantinya akan dirumuskan, agar dijadikan suatu kebijakan pemerintah, dan disosialisasikan secara meluas.

"Peserta dialog, tiap serinya berbeda-beda, karena kita akan menyerap curah pendapat dari berbagai kalangan profesional - untuk dijadikan bahan rumusan yang terstruktur," tutur Maman.

Kita berharap agar "Dialog Kompetensi Kepemimpinan Sunda" bisa menjadi satu wadah untuk menyamakan persepsi dalam melahirkan calon pemimpin Sunda yang berkualitas. Pemimpin Sunda yang kata Ganjar Kurnia; nyaah ka sarakan, nyaah ka lingkungan, pro rakyat.

Atau seperti yang diungkapkan oleh Pangdam III Siliwangi Mayjen Sriyanto, ketika menerima Pantap Kepimpinan Sunda di kantornya tanggal 1 Agustus lalu, falsafah Sunda dan Siliwangi itu luar biasa manfaatnya jika dilaksanakan, terbukti dengan keharuman Divisi Siliwangi hingga saat ini. Tapi urang Sunda juga mesti memahami kelemahan-kelemahannya. Kalau mau jadi pemimpin masa depan, kata Sriyanto, selain harus nyaah ka rayatna atau gumati ka nu leutik, cinta pada tanah airnya atau sarakan, juga mesti punya karakter, tegas dalam menyatakan sikap, cerdas dan cepat tanggap, punya konsep yang jelas, mampu menjadi panutan, dan punya ambisi besar untuk menjadi yang terbaik dengan merebut posisi pemimpin tertinggi.***

Penulis, budayawan dan novelis, tinggal di Bandung.

8.6.06

Iyar Wiarsih, "Mojang Priangan Tea"

GENERASI yang kini berusia di atas 40 tahun pasti kenal dan masih hafal lagu Mojang Priangan yang pernah mencapai puncak ketenaran selama lebih dari sepuluh tahun sejak 1960. Selama periode itu, lagu tersebut berhasil mencapai masa jaya sehingga sekaligus mengangkat citra tentang mojang-mojang dari Priangan.

Mojang dalam bahasa Sunda artinya gadis, sedangkan Priangan adalah pusat Tanah Sunda. Karena keindahan alamnya, psikolog MAW Brouwer (almarhum) sering mengungkapkan Tanah Priangan sebagai "daerah yang diciptakan Tuhan pada saat tersenyum".

Sebagai lagu Sunda, Mojang Priangan berhasil memperpanjang masa jaya lagu-lagu Sunda yang sebelumnya dipopulerkan Upit Sarimanah (almarhum) dan Titim Fatimah (almarhum). Keduanya merupakan pesinden atau juru kawih lagu-lagu Sunda yang legendaris dan hingga kini belum ada gantinya.

"Pada mulanya, saya tidak menduga lagu itu akan begitu populer," kenang sang pencipta lagu Iyar Wiarsih.

Juru kawih yang dikenal sangat selektif memilih nayaga pengiringnya itu ternyata masih tetap memiliki suara emas walaupun usianya sudah 71 tahun. Pantas jika belakangan ini ia dipilih menjadi pendamping Euis Komariah. Salah seorang penembang lagu-lagu Cianjuran tersebut tengah berusaha membawakan lagu-lagu tradisi yang biasa diiringi gamelan ke dalam tembang Cianjuran.

BIASA dipanggil "Mamah Iyar", ibu dua anak dan nenek tujuh cucu serta buyut empat cicit itu masih tampak gesit. Bahkan, untuk wanita seusianya, aktivitasnya tidak hanya sebatas mengikuti pengajian. Selain berusaha menularkan ilmunya, sesekali ia dipercaya menjadi juri dalam berbagai kegiatan lomba lagu-lagu Sunda.

Iyar Wiarsih bukan hanya dikenal sebagai juru kawih gamelan yang terkenal pada zamannya. Ia sekaligus merupakan saksi hidup masa jaya kesenian Sunda dan peran Radio Republik Indonesia (RRI). Pada saat itu, lagu-lagu Sunda berhasil mengungguli lagu-lagu Indonesia.

Coba saja, siapa yang tidak kenal dengan lagu Dikantun Tugas yang melukiskan nasib seorang istri yang ditinggal suaminya yang bertugas ke medan perang. Lagu tersebut ia ciptakan setelah Presiden Soekarno menyampaikan komando Trikora (Tiga Komando Rakyat).

Namun, Iyar bukan hanya dikenal sebagai juru kawih dengan suara emas. Ia dikenal pula sebagai pencipta lagu yang produktif. Selama kariernya sebagai juru kawih, ia mencipta tidak kurang dari 58 lagu. Beberapa lagu ciptaannya yang sempat populer antara lain Kalakay Murag, Wanita Jaya, Reret Mojang, dan Gutak-gitek.

Padahal, jika dilihat dari pendidikan formalnya di bidang kesenian, ia tidak berbeda dengan juru kawih lagu-lagu Sunda pada umumnya yang hanya mengandalkan praktik dari satu panggung ke panggung lainnya. Satu-satunya perbedaan terletak pada semangat dan ketekunannya untuk belajar. Kemampuannya dalam olah suara sudah diasah sejak kecil tatkala usianya baru sembilan tahun.

Lahir 21 September 1932 dari keluarga seniman tradisional di Kampung Cilunjar, Desa Sukasari, Kecamatan Pameungpeuk, sekitar 20 kilometer arah selatan Kota Bandung, bakatnya sudah tampak sejak kecil. Ayahnya, Enduy Kartaatmadja, dikenal sebagai pemetik kecapi dan pembawa wawacan (cerita atau kisah dalam bahasa Sunda yang dibawakan dalam bentuk dangding) kemudian menitipkan pada Sastra, temannya yang menjadi pemain rebab. Rebab adalah instrumen gesek dalam gamelan Sunda. "Saya belajar mengenal seni Sunda dari Pak Sastra," katanya tentang almarhum gurunya.

Dalam usianya yang masih sangat muda, anak pertama dari delapan bersaudara itu sudah belajar membawakan lagu-lagu dasar tatkala usianya baru menginjak sepuluh tahun. Setahun kemudian, Iyar yang saat itu sering dipanggil nyai oleh nayaga atau awak gamelan lainnya sudah diajak tampil di atas panggung. Dalam masyarakat Sunda, nyai sama artinya dengan neng, yakni panggilan untuk anak gadis.

Setelah sukses di atas panggung, sejak usia 13 tahun, Iyar aktif mengisi acara siaran di Radio Nirom, sebuah stasiun radio pemerintah kolonial Belanda. Padahal, saat itu, seleksi untuk bisa mengudara sangat selektif.

Gadis remaja itu rupanya berusaha mengadu nasib di Ibu Kota. Setelah kemerdekaan, tahun 1947, ia sempat menjadi juru kawih gamelan Sekar Arum dan Satia Manah yang mengisi acara tetap di studio RRI Jakarta. Namun, setelah dua tahun, ia memutuskan kembali ke Bandung. Alasannya, honor yang diterima tidak memadai. Maklum, nasib kesenian pada awal kemerdekaan.

SETELAH kembali ke tempat dilahirkan, penulis buku Pasinden jeung Rumpakana (Juru Kawih dan Lirik Lagu) yang banyak dijadikan pedoman oleh pesinden-pesinden itu memperoleh pelajaran berkat pergaulannya dengan seniman-seniman kesenian Sunda. Apalagi setelah ia bergabung dalam gamelan Sundayana yang dipimpin suaminya, Warsa Muharam.

Lagu Mojang Priangan yang kemudian melahirkan penghargaan dari Gubernur Jawa Barat (1985) dan Bupati Bandung (1993) pada awalnya lahir dari sebuah senandung. Dengan bantuan kecapi, suaminya kemudian berusaha menyusun notasinya. Tetapi tatkala lirik lagu tersebut sudah selesai dikerjakan, ia bingung memberi judulnya. "Mula-mula diberi judul Putri Priangan," katanya.

Karena dianggap kurang cocok, judulnya kemudian diubah menjadi Dara Priangan, lalu Gadis Priangan. Namun, belakangan, ia memilih Mojang Priangan, sebuah judul yang ia anggap sangat pas karena menggunakan kata yang sangat kental dengan bahasa Sunda. Lagu itu bukan hanya menjadi trademark-nya Iyar Wiarsih, tetapi sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Sunda.

MENEMPATI sebuah rumah sederhana di bilangan Padalarang, Bandung, Iyar Wiarsih yang pernah menjadi staf pengajar kepesindenan di Konservatori Karawitan Bandung (1966-1970) itu ternyata masih memperlihatkan ciri khas suara emasnya. Selama berbincang-bincang, pembicaraannya sesekali diseling dengan senandung, walau tanpa iringan gamelan.

"Juru kawih sekarang beruntung karena mereka banyak ditolong kemajuan teknologi," kata penerima penghargaan dari Menteri Penerangan (1977) dan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1981) itu. Katanya, suaranya yang fals bisa ditutupi karena menggunakan audio yang modern. Sebaliknya dengan juru kawih pada zamannya. Tanpa bantuan pengeras suara, tanpa bantuan peralatan audio lainnya, setiap juru kawih akan kelihatan sekali suara aslinya.

Sayangnya, dukungan teknologi tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan penguasaan dalam membawakan lagu. "Juru kawih sekarang, baru bisa satu-dua lagu sudah tampil di atas panggung karena ukurannya bukan keterampilan, tetapi tampilan fisik," katanya. Mereka tidak memahami kaidah-kaidah sebagai juru kawih sehingga hal ini saling berpengaruh antara nasib lagu-lagu Sunda dan apresiasi masyarakatnya.

Padahal, seorang juru kawih harus mempelajari dulu dan menguasai lagu-lagu dasar, misalnya Sekar Ageung dan lagu lainnya. Para nayaga-nya juga harus memiliki apresiasi tinggi karena mereka benar-benar sebagai nayaga. "Bukan sebagai pekerjaan sambilan," tuturnya. Dengan demikian, ketika mereka tampil, kesalahan sekecil apa pun bisa segera terasa. Seorang juru kawih juga harus bisa menangkap "keinginan" dalang, kapan ia harus menembang dan kapan harus berhenti.

Kecewa karena tidak menemukan lagi nayaga yang memenuhi harapannya, juru kawih yang mandiri itu lebih memilih menarik diri dari atas panggung. Seni Sunda benar-benar merasakan kehilangan. Apalagi setelah ia mengundurkan kegiatannya di RRI Bandung dan salah satu radio swasta. (Her Suganda)

7.6.06

Syekh Hasanuddin: pendiri pesantren pertama di Jawa Barat

Menurut Babad Tanah Jawa, pesantren pertama di Jawa Barat adalah pesantren Quro yang terletak di Tanjung Pura, Karawang. Pesantren ini didirikan oleh Syekh Hasanuddin, seorang ulama dari Campa atau yang kini disebut Vietnam, pada tahun 1412 saka atau 1491 Masehi. Karena pesantrennya yang bernama Quro, Syekh Hasanuddin belakangan dikenal dengan nama Syekh Quro.

Syekh Quro atau Syekh Hasanuddin adalah putra Syekh Yusuf Sidik. Awalnya, Syekh Hasanuddin datang ke Pulau Jawa sebagai utusan. Ia datang bersama rombongannya dengan menumpang kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho dalam perjalanannya menuju Majapahit.

Dalam pelayarannya, suatu ketika armada Cheng Ho tiba di daerah Tanjung Pura Karawang. Sementara rombongan lain meneruskan perjalanan, Syekh Hasanuddin beserta para pengiringnya turun di Karawang dan menetap di kota ini.

Di Karawang, Syekh Hasanuddin menikah dengan gadis setempat yang bernama Ratna Sondari yang merupakan puteri Ki Gedeng Karawang. Di tempat inilah, Syekh Hasanuddin kemudian membuka pesantren yang diberi nama Pesantren Quro yang khusus mengajarkan Alquran. Inilah awal Syekh Hasanuddin digelari Syekh Quro atau syekh yang mengajar Alquran.

Dari sekian banyak santrinya, ada beberapa nama besar yang ikut pesantrennya. Mereka antara lain Putri Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa, penguasa kerajaan Singapura, sebuah kota pelabuhan di sebelah utara Muarajati Cirebon. Puteri Subang Larang inilah yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi, penguasa kerajaan Sunda Pajajaran.

Kesuksesan Syekh Hasanuddin menyebarkan ajaran Islam adalah karena ia menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kedamaian, tanpa paksaan dan kekerasan. Begitulah caranya mengajarkan Islam kepada masyarakat yang saat itu berada di bawah kekuasaan raja Pajajaran yang didominasi ajaran Hindu.

Karena sifatnya yang damai inilah yang membuat Islam diminati oleh para penduduk sekitar. Tanpa waktu lama, Islam berkembang pesat sehingga pada tahun 1416, Syekh Hasanuddin kemudian mendirikan pesantren pertama di tempat ini.

Ditentang penguasa Pajajaran
Berdirinya pesantren ini menuai reaksi keras dari para resi. Hal ini tertulis dalam kitab Sanghyang Sikshakanda Ng Kareksyan. Pesatnya perkembangan ajaran Islam membuat para resi ketakutan agama mereka akan ditinggalkan.

Berita tentang aktivitas dakwah Syekh Quro di Tanjung Pura yang merupakan pelabuhan Karawang rupanya didengar Prabu Angga Larang. Karena kekhawatiran yang sama dengan para resi, ia pernah melarang Syekh Quro untuk berdakwah ketika sang syekh mengunjungi pelabuhan Muara Jati di Cirebon.

Sebagai langkah antisipasi, Prabu Angga Larang kemudian mengirimkan utusan untuk menutup pesantren ini. Utusan ini dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa. Namun baru saja tiba ditempat tujuan, hati Raden Pamahan Rasa terpesona oleh suara merdu pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan Nyi Subang Larang.

Putra mahkota yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi itu dengan segera membatalkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Ia justru melamar Nyi Subang Larang yang cantik. Lamaran tersebut diterima oleh Nyi Santri dengan syarat maskawinnya haruslah Bintang Saketi, yaitu simbol "tasbih" yang ada di Mekah.

Pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Karancang pun kemudian dilakukan di Pesantren Quro atau yang saat ini menjadi Masjid Agung Karawang. Syekh Quro bertindak sebagai penghulunya.

Menyebar santri untuk berdakwah
Tentangan pemerintah kerajaan Pajajaran membuat Syekh Quro mengurangi intensitas pengajiannya. Ia lebih memperbanyak aktivitas ibadah seperti shalat berjamaah.

Sementara para santrinya yang berpengalaman kemudian ia perintahkan untuk menyebarkan Islam ke berbagai kawasan lain. Salah satu daerah tujuan mereka adalah Karawang bagian Selatan seperti Pangkalan lalu ke Karawang Utara di daerah Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Dalam penyebaran ajaran Islam ke daerah baru, Syekh Quro dan para pengikutnya menerapkan cara yang unik. Antara lain sebelum berdakwah menyampaikan ajaran Islam, mereka terlebih dahulu membangun Masjid. Hal ini dilakukan Syekh Quro mengacu pada langkah yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat itu beliau terlebih dahulu membangun Masjid Quba.

Cara lainnya, adalah dengan menyampaikan ajaran Islam melalui pendekatan dakwah bil hikmah. Hal ini mengacu pada AlQuran surat An Nahl ayat 125, yang artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik."

Sebelum memulai dakwahnya, Syekh Quro juga telah mempersiapkan kader-kadernya dengan pemahaman yang baik soal masyarakat setempat. Ini dilakukan agara penyebaran agamanya berjalan lancar dan dapat diterima oleh masyarakat. Hal inilah yang melatarbelakangi kesuksesan dakwah Syekh Quro yang sangat memperhatikan situasi kondisi masyarakat serta sangat menghormati adat istiadat penduduk yang didatanginya.

Selama sisa hidup hingga akhirnya meninggal dunia, Syekh Quro bermukim di Karawang. Ia dimakamkan di Desa Pulo Kalapa, Kecamatan Lemah Abang, Karawang. Tiap malam Sabtu, makam ini dihadiri ribuan peziarah yang datang khusus untuk menghadiri acara Sabtuan untuk mendoakan Syekh Quro.

Belakangan masjid yang dibangun oleh Syekh Quro di pesantrennya, kemudian direnovasi. Namun bentuk asli masjid -- berbentuk joglo beratap dua limasan, menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon -- tetap dipertahankan.

( uli/berbagai sumber )