9.2.16

Bahasa Sunda terus tergerus

Ti Antaranews.com
Minggu, 25 Agustus 2013

Bandung (ANTARA News) - Peneliti Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat (BBPJB) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Ade Mulyanah menyebutkan hanya 40 persen anak Jawa Barat  yang mengetahui dan mampu berbahasa Sunda.

"Persentase itu didapat dari anak yang kedua orang tuanya asli orang Sunda, bayangkan bagaiman dengan orang tua yang bukan asli Sunda," kata Ade Mulyanah saat menghadiri final pemilihan duta bahasa Jawa Barat di The Hotel Majesty Bandung, Minggu.

Menurut Ade, pengguna Bahasa Sunda terancam terus menurun, khususnya di kalangan generasi muda karena warga Jawa Barat mulai tidak terbiasa menggunakan bahasa daerah.

Ade menyebutkan dua hal yang menyebutkan bahasa daerah terancam punah yakni karena dibiarkan punah dan tidak sengaja dibiarkan karena dianggap tidak penting.

"Mereka takut dengan bahasa daerah sendiri, karena mereka menganggap bahasa asing adalah trend setter (pencipta kecenderungan), padahal tidak demikian juga," katanya.

Saat ini BBPJB sedang menggalakkan cinta bahasa daerah sendiri, dengan mensosialisasikan penggunaan bahasa daerah dan Bahasa Indonesia ke sekolah-sekolah lewat slogan "Bahasa daerah itu pasti Bahasa Indonesia itu wajib, Bahasa asing itu perlu".

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2013

5.2.16

Islam Bersemi di Tatar Sunda (3-Habis)

Ti Republika > Khazanah > Dunia Islam
Medal 02 Juni 2014
Rep: Fuji Pratiwi/ Red: M Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, Pada 1513 M, Islam dikabarkan sudah meluas hingga ke Indramayu. Laksamana Cheng Ho yang juga seorang Muslim, juga sempat singgah di kota berpenduduk Islam di Cirebon pada abad ke-15 atau 16 M.

Mengutip penjabaran Carita Purwaka Caruban Nagari (Sejarah Mula Jadi Cirebon) pada 1972 oleh Atja, Mumuh menuliskan Syekh Datuk Kahfi menyarankan Walangsungsang dan Lara Santang untuk berhaji. Di Tanah Suci, Lara Santang menikah dengan Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah. Nyai Lara Santang mendapat gelar Syarifah Mudaim. Dari pernikahan mereka lahir Syarif Hidayat pada 1448 M. Syarif Hidayat kelak menjadi salah satu wali dari Wali Songo.

Rute
Islam menyebar ke sekeliling ibu kota Kerajaan Sunda yang ketika itu berpusat di Kota Pakuan (kini Bogor). Pada 1579 M, barulah pasukan Kerajaan Banten masuk dan menaklukkan Pakuan dari arah barat.

Secara garis besar, akademisi Universitas Padjadjaran Edi S Ekadjati dalam "Penyebaran Agama Islam di Jawa Barat" memetakan penyebaran Islam di Jawa Barat ke dalam enam rute:
- Cirebon - Kuningan - Talaga - Ciamis.
- Cirebon - Kadipaten - Majalengka - Darmaraja - Garut.
- Cirebon - Sumedang - Bandung.
- Cirebon - Talaga - Sagalaherang - Cianjur.
- Banten - Jakarta - Bogor - Sukabumi.
- Banten - Banten Selatan - Bogor - Sukabumi.

Islam Bersemi di Tatar Sunda (2)

Ti Republika > Khazanah > Dunia Islam
Medal 02 Juni 2014
Rep: Fuji Pratiwi/ Red: M Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam "Penyebaran Islam di Jawa Barat", Mumuh Muchsin Z menulis dari sumber lokal diketahui orang yang per tama memeluk Islam di wilayah Sunda adalah Haji Purwa pada 1337 M. Haji Purwa adalah putra Kuda Lalean. Ia masuk Islam melalui interaksi dengan pedagang Arab.

Saat pulang ke Kerajaan Galuh (wi la yah Ciamis sekarang), ia berupaya mengajak adiknya untuk masuk Islam. Namun, tidak berhasil. Ia lalu memilih menetap di Cirebon. Haji Purwa itu iden tik dengan Syekh Maulana Saifud din. Mumuh mengemukakan, Haji Pur wa menjadi orang Islam per ta ma yang menetap di Cire bon yang saat itu dipim pin Juru Labuan Ki Gendeng Kasmaya. Ki Gendeng Kasmaya lalu digantikan Ki Gendeng Sedangkasih, lalu Ki Gendeng Tapa.

Selain Haji Purwa, orang Islam juga masuk melalui para ulama dari Campa yang sudah lebih dulu disentuh Islam pada abad ke-11. Dalam Carita Pur waka Caruban Nagari, disebut Dukuh Pasambangan didatangi guru-guru Islam, salah satunya dari Campa, Syekh Hasanuddin, putra Syekh Yusuf Sidik. Syekh Hasanuddin mendirikan pondok di Quro, Karawang.

Juru Labuan Cirebon kala itu, Ki Gendeng Tapa, mengirim anaknya, Nyi Subang Larang, untuk mempelajari Islam kepad Syekh Quro. Pada 1422 M, Nyi Subang Larang dinikahi dan menjadi salah satu istri Prabu Sili wangi, raja Pajajaran. Kala itu, Cirebon menjadi wilayah di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran.

Nyi Subang Larang dan Prabu Siliwangi memiliki anak, Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Pangeran Kean Santang. Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang sempat berguru pada Ki Gendeng Jumajan Jati. Ki Gendeng Jumajan Jati menerima utusan Raja Parsi, Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati, di Pasambangan. Ia diterima dengan baik oleh Ki Gendeng Jumajan Jati.

Syekh Datuk Kahfi lalu diperbolehkan mendirikan pondok di Bukit Am paran Jati. Ki Gendeng Jumajan Jati meminta Walangsungsang (Cakrabuana) bersama istrinya, Edang Ayu, serta adiknya, Lara Santang, untuk berguru pada Syekh Datuk Kahfi. Walangsungsang lalu digelari Samdullah.

Atas petunjuk gurunya, mereka membuka sebuah wilayah yang awalnya tegal alang-alang pesisir yang lalu menjadi desa yang dikepalai seorang kuwu. Desa ini dinamakan Caruban atau Caruban Larang. Para pedagang di Muara Jari dan Dukuh Pasambangan kemudian pindah ke Pelabuhan Caru ban.