12.6.17

Pesantren As-Salafiyah Cetak Tafsir Berbahasa Sunda

 
SUKABUMI--Pondok Pesantren (Ponpes) As-Salafiyah, Sukabumi mencetak tafsir kitab dengan menggunakan Bahasa Sunda. Isi dari kitab tersebut bermacam-macam seperti tafsir fiqih, tauhid, nasharab dan lain-lain yang saat ini jumlah kitabnya mencapai 168 kitab yang sudah ditafsirkan ke dalam bahasa Sunda.

Pimpinan Ponpes As-Salafiyah, KH Ahmad Makky di Suabumi, Senin, mengatakan, ide mentafsirkan kitab-kitab yang berasal dari Kairo-Mesir ini sejak tahun 1988 lalu.
Awalnya ia hanya mencetak tiga tafsir dalam bahasa sunda saja. Tetapi, setelah diterbitkan, tafsir tersebut ternyata banyak peminatnya.

"Ide itu muncul untuk mempermudah para santrinya untuk mempelajari pelajaran Agama Islam lewat tafsir yang saya buat," kata Ahmad Makky.

Ia menjelaskan, pentafsiran yang dilakukannya tidak semudah membalikan telapak-tangan. Ia harus berlajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya hanya untuk bisa mentafsirkan kitab-kitab tersebut.

Setelah ilmunya cukup dan daya hapalnya kuat, Ahmad Makky mengatakan, mencoba mentafsirkan beberapa kitab dan ternyata bisa diterima oleh pesantren-pesantren lainnya.

"Ilmu yang saya punya ini saya gunakan untuk kepentingan umum, sehingga ilmu yang saya punya dapat bermanfaat," jelas Ahmad Makky.

Ahmad menuturkan, saat ini pihaknya sudah mentafsirkan 168 jenis kitab ke dalam Bahasa Sunda dan Bahas Melayu. Dan peredaran tafsir tersebut sudah sampai ke luar negeri, yakni sampai ke Negeri Timur-Tengah.

Selain itu, peredaran tafsir ini di Indonesia juga sampai ke pelosok. "Hanya kami yang mentafsirkan ke dalam Bahasa Sunda," tuturnya.

Belum lama ini, pihaknya mendapatkan penghargaan dari Rancage- Jawa Barat karena telah berdedikasi kepada kebudayaan Bahasa Sunda untuk terus memakmurkan kebudayaan asli dari Jawa Barat itu.

Selain itu, pada Bulan Ramadhan ini pihaknya banyak mendapatkan order dari pesantren-pesantren lain yang minta dibuatkan tafsir kita-kitab buatannya. "Kami sudah banyak menerima penghargaan, dan saat ini kami sedang banyak peminat kitab kami," kata Ahmad Makky. ant/ahi

11.6.17

Makam Putri Kerajaan Pajajaran, Dyah Pitaloka di Dukuh Maja?

Sejak dulu, Luragung dikenal sebagai cikal bakal Kerajaan Kuningan atau Kajenen. Di wilayah ini banyak ditemukan peninggalan bersejaran seperti punden berundak, pecahan gerabah dan sebuah makam yang dipercaya sebagai makam Dyah Pitaloka, putri Kerajaan Pajajaran yang memilih bunuh diri ketimbang menjadi upeti bagi Kerajaan Majapahit. Warga Luragung percaya, jika makam besar yang ada di Desa Dukuh Maja adalah makam putri kerajaan Pajajaran.

BANYAK benda peningggalan sejarah pra sejarah dan kerajaan masa Islam ditemukan oleh tim eksvakasi dari Balai Arkelogi Bandung. Ini dibuktikan dengan temuan punden berundak, menhir dan sejumlah makam di beberapa lokasi di wilayah Luragung.

Para arkeolog itu menyusuri wilayah yang diduga menyimpan benda peninggalan pra sejarah. Menurut staf Kecamatan Luragung, Suhartono, tim melakukan eksvakasi di wilayah yang diduga peninggalan zaman megalitikum dan zaman Islam.
Tim mendatangi pemakaman umum desa di Desa Dukuh Maja yang letaknya lumayan jauh dari pemukiman penduduk. Ada dua lokasi pemakaman di desa tersebut dan salahsatunya terbilang purba. Di pemakaman purba itu ada sebuah makam besar yang dipercaya warga Dukuh Maja sebagai makam putri Kerajaan Pajajaran, Dyah Pitaloka.
Dyah Pitaloka sendiri tewas setelah bunuh diri ketika terjadi perang Bubat saat zaman Majapahit. Mayatnya kemudian dibawa pasukan Pajajaran yang selamat melewati Luragung.
Namun karena sudah mengeluarkan aroma tidak sedap, akhirnya jasad putri yang mempertahankan harga dirinya ketimbang menjadi upeti bagi Raja Hayam Wuruk itu dimakamkan di sebuah hutan Dukuh Maja. “Kami percaya kalau makam besar di Dukuh Maja itu adalah makam Dyah Pitaloka yang bunuh diri saat perang Bubat. Cerita ini kami dapatkan secara turun temurun sejak zaman dulu. Dan kami mempercayau kalau hutan Bubat lokasinya tidak jauh dari Luragung,” papar Suhartono kepada Radar.
Warga Dukuh Maja sendiri sangat percaya jika makam besar di desanya itu adalah makam Dyah Pitaloka. Kendati tidak ada bukti atau literatur tertulis, dugaan itu bisa saja benar. Apalagi zaman dulu Luragung masih hutan belukar. “Kata orang tua kami, makam Dyah Pitaloka itu di sini. Di pemakaman ini juga ada nama Buyut Pakuan. Nama ini sudah ada sejak kami belum lahir. Jadi, kami sangat percaya kalau putri kerajaan Pajajaran yang tewas di lapangan Bubat itu dimakamkan di sini,” tutur sejumlah warga Dukuh Maja.
Namun klaim warga itu belum mendapatkan pembenaran dari para arkeolog yang melakukan penelitian di Luragung. Para arkeolog yang datang baru meneliti benda-benda yang diduga peninggalan masa lalu seperti batu menhir, penuden berundak dan pecahan gerabah atau keramik. “Belum meneliti yang lain termasuk juga dugaan makam kuno di Desa Dukuh Maja,” katanya.
Melihat banyaknya benda purbakala yang ditemukan di wilayah Kecamatan Luragung, bisa jadi kawasan ini dulunya adalah kota tua atau sebuah kerajaan. Menurut Dra Evi Latipundiah, timnya melakukan penelitian setelah sebelumnya mendapat laporan tentang banyaknya benda purbakala yang ditemukan warga. Untuk memudahkan penelitian, pihaknya membagi dua tim. Di Cigedang dan beberapa desa lainnya pihaknya menemukan pecahan keramik dan gerabah dan juga makam penyebar Islam. Penemuan serupa juga ditemukan di Dukuh Maja. Lokasinya jauh dari pemukiman penduduk berupa pecahan keramik atau gerabah.
Namun Evi belum bisa memastikan apakah benda temuannya ini berasal dari zaman pra sejarah atau masa Hindu/Budha. Sebab untuk memastikannya memerlukan penelitian lebih lanjut. Tapi melihat cirri-ciri yang ada, dia berasumsi kalau punden berundak dan altar batu itu peninggalan zaman Megalitikum.
“Perlu penelitian lebih dalam. Mungkin saja eksvakasi lebih besar dilakukan, seandainya kami menemukan benda-benda pra sejarah lainnya,” ujarnya. (*)
Sumber: http://www.radarcirebon.com/makam-putri-kerajaan-pajajaran-dyah-pitaloka-di-dukuh-maja.html

9.2.16

Bahasa Sunda terus tergerus

Ti Antaranews.com
Minggu, 25 Agustus 2013

Bandung (ANTARA News) - Peneliti Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat (BBPJB) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Ade Mulyanah menyebutkan hanya 40 persen anak Jawa Barat  yang mengetahui dan mampu berbahasa Sunda.

"Persentase itu didapat dari anak yang kedua orang tuanya asli orang Sunda, bayangkan bagaiman dengan orang tua yang bukan asli Sunda," kata Ade Mulyanah saat menghadiri final pemilihan duta bahasa Jawa Barat di The Hotel Majesty Bandung, Minggu.

Menurut Ade, pengguna Bahasa Sunda terancam terus menurun, khususnya di kalangan generasi muda karena warga Jawa Barat mulai tidak terbiasa menggunakan bahasa daerah.

Ade menyebutkan dua hal yang menyebutkan bahasa daerah terancam punah yakni karena dibiarkan punah dan tidak sengaja dibiarkan karena dianggap tidak penting.

"Mereka takut dengan bahasa daerah sendiri, karena mereka menganggap bahasa asing adalah trend setter (pencipta kecenderungan), padahal tidak demikian juga," katanya.

Saat ini BBPJB sedang menggalakkan cinta bahasa daerah sendiri, dengan mensosialisasikan penggunaan bahasa daerah dan Bahasa Indonesia ke sekolah-sekolah lewat slogan "Bahasa daerah itu pasti Bahasa Indonesia itu wajib, Bahasa asing itu perlu".

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2013