15.10.05

Jati diri Orang Sunda

Artikel Pikiran Rakyat édisi 5 Séptémber 2005

Ku YAYAT HENDAYANA

SEBAGAI orang yang lahir dari keluarga Sunda, saya merasa perlu untuk berusaha menjadi orang Sunda (yang baik). Agar usaha itu berhasil, saya tentu harus tahu dulu apa dan bagaimana jati diri Orang Sunda itu. Padahal akhir-akhir ini begitu sering saya mendengar wacana tentang semakin banyaknya orang-Sunda yang (telah) kehilangan jati dirinya.

Saya tidak tahu apakah keseharian saya sekarang ini (masih) merepresentasikan jati diri orang Sunda itu atau tidak. Saya tidak dapat mengukurnya karena saya tidak tahu secara tepat bagaimana juntrungan dari jati diri Orang Sunda itu. Saya butuh "kriteria" yang terdeskripsikan secara jelas untuk dijadikan acuan dalam membawakan diri di tengah-tengah pergaulan beragam etnis. Ataukah memang apa yang disebut sebagai Jati Diri Orang Sunda itu sesuatu yang abstrak, absurd, sehingga karenanya tidak dapat dideskripsikan?

Jika apa yang disebut jati diri itu merupakan hal yang amat penting untuk menentukan identitas kesundaan, deskripsi mengenai hal itu merupakan sebuah tuntutan mutlak. Jati diri yang dideskripsikan dengan jelas dapat dijadikan pegangan oleh mereka (orang Sunda) yang berniat menjadi orang-Sunda yang baik, yaitu yang dalam kehidupan kesehariannya menunjukkan jati diri kesundaan. Bagaimana mungkin kita dapat mengatakan seseorang itu masih atau sudah kehilangan jati diri kesundaannya kalau kita tidak tahu pasti apa yang disebut dengan jati diri orang Sunda itu.

Sebagai orang Sunda, bagaimana mungkin saya akan mampu memberikan contoh teladan kepada anak-cucu tentang bagaimana hidup dengan Jati diri Sunda jika saya sendiri tidak tahu apa dan bagaimana Jati diri Sunda itu. Padahal bagi anak-cucu, mungkin juga bagi banyak orang Sunda sekarang, jati diri Ki Sunda yang terdeskripsikan secara jelas akan sangat bermanfaat untuk dijadikan pegangan agar tidak mudah dikelompokkan sebagai orang Sunda yang (telah) kehilangan jati diri.

Mendeskripsikan apa dan bagaimana ”Jati diri Orang Sunda” terasa menjadi semakin penting setelah membaca "keberatan" Rachmat Iskandar terhadap paparan Anis Djatisunda dalam seminar "Napak Lacak Ki Sunda" di Bogor, Agustus 5 yang lalu (”PR”, Kamis 28/5, hlm. 20). Untuk mencegah kemungkinan terjadinya papaseaan papada urang dalam format yang lebih massal "hanya" karena persoalan jati diri, maka buatlah segera deskripsinya setelah disepakati, agar dapat dijadikan acuan oleh mereka yang memerlukan.

Tiga aspek pendukung

Agar dapat dijadikan pedoman hidup, setidak-tidaknya ada tiga aspek yang perlu didesekripsikan tentang Jati diri Orang Sunda itu, yaitu aspek pola-pikir, pola-sikap dan pola- tindak. Indikasi apakah seseorang (Sunda) masih berjati diri Sunda atau tidak bisa dilihat dari penerapan ketiga aspek tersebut dalam kehidupan kesehariannya. Deskripsi tentang jati diri yang meliputi ketiga aspek di atas merupakan alat ukur untuk menilai apakah seseorang (Sunda) itu masih berjati diri Sunda atau tidak. Tidak mudah, tentu saja. Tapi paling tidak ada acuan penilaian sebelum terlalu gampang menjatuhkan vonis bahwa Si Orang Sunda itu telah kehilangan jati dirinya padahal alat ukurnya tidak jelas.

Dari wacana yang berkembang selama ini, yang dimaksud dengan jati diri Ki Sunda adalah jati diri sebagaimana ditunjukkan oleh orang-orang Sunda masalampau. Orang Sunda masa kini dikatakan tidak kehilangan jatiri jika dalam kehidupan kesehariannya mampu merepresentasikan secara utuh pola hidup (pola-pikir, pola-sikap, dan pola-tindak) sebagaimana dilakukan oleh orang Sunda masa lampau. Bagaimana wujud konkret dari pola-hidup itu, itulah yang perlu dideskripsikan untuk dapat menentukan rumusan tentang Jati diri Orang Sunda. Masa lampau adalah orientasi kita ketika membicarakan tentang jati diri. Maka untuk merumuskan Jati diri Ki Sunda itu diperlukan sumber-sumber acuan yang juga dari masa lampau, tertulis maupun lisan. Mana sumber-sumber yang kita anggap sahih untuk dijadikan acuan, tentu harus kita sepakati terlebih dahulu agar gambaran tentang jati diri Ki Sunda merupakan gambaran yang dapat diterima semua pihak dan tidak bersifat kontroversial. Hal ini penting dilakukan mengingat orang Sunda sekarang ini lebih gemar saling menyalahkan ketimbang saling mendukung. Seolah-olah apa yang dilakukan orang lain selalu akan merusak tatanan kesundaan.

Ada yang mengatakan bahwa Jati diri Orang Sunda tercermin dalam sosok Prabu Siliwangi. Jika itu benar, dan disepakati bersama, maka untuk merumuskan Jati diri Orang Sunda kita hanya tinggal mendeskripsikan secara rinci tentang pola-pikir, pola sikap dan pola tindak seorang Prabu Siliwangi. Ada pula yang berpendapat bahwa untuk mengetahui jati diri orang Sunda cukup dengan melihat pola-hidup masyarakat Kanekes (Baduy) sekarang. Jika itu yang disepakati, deskripsikanlah dan silakan dijadikan pedoman!

Jati diri masa kini

Sebagian orang Sunda selalu menempatkan masa lalu sebagai pusat orientasi ketika harus merumuskan berbagai hal. Tata nilai yang berlaku di masa lalu senantiasa diposisikan sebagai nilai yang adiluhung. Padahal tentu ada nilai-nilai yang tidak dapat berlaku sepanjang jaman, melainkan hanya cocok untuk diterapkan pada kurun waktu tertentu. Tentu ada nilai-nilai kesundaan masa lalu yang jika diterapkan di masa kini malah berpengaruh negatif bagi kemajuan orang Sunda.

Sering kali kita mengatakan keadiluhungan nilai-nilai kesundaan masa lalu tanpa mampu menunjukkan secara rinci mana nilai-nilai yang adiluhung itu. Oleh karena itu marilah kita lakukan inventarisasi terhadap nilai-nilai kesundaan itu. Lalu, dengan pikiran jernih kita lakukan pemilahan. Dalam memilah-milah nilai-nilai itu kita dituntut untuk melakukan reorientasi. Hendaknya kita tidak berorientasi ke masa lalu melainkan ke masa kini dan terutama ke masa depan. Melakukan pemilahan nilai-nilai kesundaan dengan orientasi ke masa kini dan masa depan diharapkan dapat menghasil;kan mana nilai-nilai kesundaan yang masih bermanfaat untuk diterapkan di masa kini demi kepentingan masa depan, dan mana nilai-nilai kesundaan yang justru akan menjadi penghalang untuk melangkah maju.

Nilai-nilai yang positif bagi masa kini dan masa depan marilah kita kembangkan dan kita wariskan kepada anak-cucu kita. Sedangkan nilai-nilai kesundaan yang berpengaruh negatif bagi pola hidup orang Sunda masa kini dan masa depan, marilah kita museumkan. Tak perlu kita jadikan pedoman hidup. Tata-nilai yang negatif seperti itu tak perlu kita wariskan kepada anak-cucu kita, agar mereka lebih leluasa melangkah menuju masa depan, tanpa harus terbelenggu oleh "nilai-nilai adiluhung" masa lalu.

Sejalan dengan sikap kita dalam memandang nilai-nilai kesundaan, maka dalam merumuskan Jati diri Orang Sunda, orientasi kita seharusnya tidaklah melulu ke masa lalu melainkan ke masa depan. Kita harus mampu menjawab pertanyaan, "bagaimana seharusnya Jati diri Orang Sunda masa kini dalam menyongsong masa depan".

Merumuskan Jati diri Orang Sunda masa kini, dengan bercirikan nilai-nilai kesundaan masa lalu yang positif, adalah menyusun "kriteria ideal" tentang pola-pikir, pola-sikap dan pola-tindak orang Sunda yang akan membuatnya tidak saja mampu bertahan hidup (survive) melainkan juga mampu menjadi pemenang dalam setiap pertarungan. Hanya dengan begitu orang Sunda mampu berkiprah dalam kehidupan yang semakin keras serta persaingan yang semakin ketat. Hanya dengan begitu orang Sunda tidak akan semakin terpinggirkan, melainkan meningkat perannya dari masa ke masa.***

Penulis, budayawan.

1 comment:

SUKRON ABDILAH said...

Iya..betul kang Yayat. Sebagai orang Sunda saya juga merasa bahwa jati diri asli lokal kesundaan telah berganti dengan jati diri yang lebih plural. Mungkin itu merupakan tahap dari Sundamorfosis? ameung atuh ka blog abdi kang Yayat. Tapi, omat teu kenging lampar. Hyong terang perkawis Ngahiyangna Prabu Siliwangi abdi teh. Tiasa guguru atuh ka kang yayat. Wios ku abdi blogna di pampang di blog simkuring? hatur thank U